PENERAPAN NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PELAKSANAAN UPACARA ADAT PURUNG TA KADONGA RATU PADA MASYARAKAT DESA MAKATAKERI KECAMATAN KATIKUTANA KABUPATEN SUMBA TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NNT)

  • I Made Sila Universitas Dwijendra
  • I Made Purana Universitas Dwijendra
  • Arni Rambu Bauru Awa Universitas Dwijendra

Abstract

Abstrak Purung Ta Kadonga Ratu (Turun di Lemba Imam) merupakan ritual adat yang dilakukan masyarakat Sumba setiap tahun sekali untuk memperingati para leluhur yang dianggap memiliki kekuatan magis dan dapat memprediksi kesuburan hasil pertanian masyarakat. Ritual adat Purung Ta Kadonga Ratu (Turun di Lemba Imam) sebelum dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan acara pemotongan kerbau jantan yang bahasa adatnya “Haka Raja Rewa”yang artinya ukuran tanduk kerbau yang akan dipotong untuk memberikan persembahan kepada leluhur. Acara ritual adat Purung ta Kadonga Ratu (Turun di Lemba Imam) di lakukan di sebuah tempat yang tinggi yang dirasa cocok oleh tua adat (“Ama Walu Adung, Ina Walu Kerung”) yang dianggap sebagai kepala suku atau penanggung jawab untuk semua suku dalam melakukan ritual. Tempat dilakukan ritual adat Purung ta Kadonga Ratu (Turun di Lemba Imam) diberi nama“Laitarung”. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalnya adalah pelaksanaan Nilai-nilai Pancasila apa saja yang terkandung dalam upacara adat Purung Ta Kadonga Ratu pada masyarakat Desa Makatakeri Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Tengah, Bagaimana proses pelaksanaan Upacara Adat Purung ta Kadonga Ratu pada kehidupan masyarakat sehari¬-hari di Desa Makatakeri Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih dalam tentang Penerapan Nilai-Nilai Pancasila  Dalam Pelaksanaan Upacara Adat Purung Ta Kadonga Ratu Pada Masyarakat Desa Makatakeri  Kecamatan  Katikutana Kabupaten Sumba Tengah, Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah Teknik wawancara, teknik observasi, teknik dokumentasi Metode atau teknik yang digunakan untuk menganalisi data adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian menyatakan bahwa Upacara adat ini dilakukan dengan mengacungkan dua tombak pusaka keramat yang panjangnya kurang lebih 7 meter yang diacungkan ke langit untuk menjebol bendungan di langit untuk mendatangkan atau menurunkan hujan. Kedua tombak keramaat itu yakni Loda Pari dan Mehang Karaga. Apabila dalam lomba mengangkat tombak yang mengarah kelangit dan yang menang pertama adalah “Nibu loda pari” maka diprediksikan hasil pertanian subur dan musim hujan juga beraturan yang bahasa adatnya “hawewanaga pungina, kabobunaga ratina”. Kalau “nibu mehang karaga” yang menang pertama maka diprediksikan hasil pertanian tidak subur dan akan ada kelaparan besar melanda pulau Sumba yang bahasa adatnya“danakerimawaka tuwa danahimawaka watu, nyeka pagaliparawigika waiga bakukapata wewi wawi bakukanuka wewi kauki”. Kata Kunci: Penerapan Nilai-Nilai Pancasila, Upacara Adat Purung Ta Kadonga Ratu     Abstract Purung Ta Kadonga Ratu (Descended in Lemba Imam) is a traditional ritual that is carried out by the Sumba people every year to commemorate the ancestors who are considered to have magical powers and can predict the fertility of the agricultural produce of the community. Purung Ta Kadonga Ratu's traditional ritual (Going down at Lemba Imam) before the male buffalo slaughtering ceremony for which the customary language is "Haka Raja Rewa" means the size of the buffalo horn that will be cut to make offerings to the ancestors. Purung ta Kadonga Ratu (Down in Lemba Imam) traditional rituals are held in a high place that is considered suitable by the traditional elders ("Ama Walu Adung, Ina Walu Kerung") who are considered as tribal chiefs or responsible for all tribes in carrying out ritual. The place where Purung ta Kadonga Ratu (Descended in Lemba Imam) traditional ritual is named "Laitarung". Based on this background, the mass formulation is the implementation of any Pancasila Values ​​contained in the Purung Ta Kadonga Ratu traditional ceremony in the people of Makatakeri Village, Katikutana Subdistrict, Central Sumba Regency, How is the process of implementing Purung ta Kadonga Ratu Traditional Ceremony in people's daily lives ¬ in Makatakeri Village, Katikutana District, Central Sumba Regency. The purpose of this study was to find out more about the Implementation of Pancasila Values ​​in the Implementation of the Purung Ta Kadonga Ratu Ceremony in the Makatakeri Village Community Katikutana Subdistrict, Central Sumba, Data collection techniques used in this study were interview techniques, observation techniques, documentation techniques Method or the technique used to analyze data is a qualitative descriptive method. The results of the study stated that this traditional ceremony was carried out by brandishing two sacred heirloom spears that were approximately 7 meters in length that were stretched toward the sky to break down dams in the sky to bring or bring down rain. The two religious spears were Loda Pari and Mehang Karaga. If in the race to lift the spear that leads to the sky and the first winner is "Nibu loda pari" then it is predicted that fertile agricultural products and the rainy season are also regular with the traditional language "hawewanaga pungina, kabobunaga ratina". If "nibu mehang karaga" wins first, it is predicted that agricultural products are infertile and there will be a huge famine in the island of Sumba, the customary language "danakerimawaka tuwa and Ibrahimawaka watu, wiping pagaliparawigika waiga bakukapata wewi wawi bakukanuka wewi kauki". Keywords: Implementation of Pancasila Values, Purung Ta Kadonga Ratu Traditional Ceremony
Published
2020-03-31